Kucinta Kau Ada Apanya


ditulis oleh Marcel Josojuwono, 20 Desember 2019


(Di suatu malam yang indah)
“Mas, kamu sayang gak sama aku?”
“Sayang kok…”
“Emangnya kenapa kok bisa sayang?”
“Soalnya … kamu cantik sihh”
“Lho, kalo gitu misalkan aku uda ga cantik jadi ga sayang lagi sama aku?!”

Mungkin ketika anda membaca percakapan tersebut anda berkata “Gombal banget ini cowok! Dasar lelaki semua sama!”. Untuk para lelaki mungkin anda dapat berkata, “Ups, salah jawab deh!”. Ilustrasi percakapan di atas sebenarnya ingin menggambarkan bahwa selalu ada alasan dibalik semua pernyataan seseorang, baik itu karena positif ataupun negatif. Memang sih terdengar seperti percakapan sinetron, akan tetapi tahukah anda bahwa Yesus pernah memberikan pertanyaan yang serupa kepada Petrus bahkan sampai diulang tiga kali? (Yohanes 21:15-19)

“Simon, anak Yohanes apakah engkau mengasihi Aku?”

Dalam konteks hidup mengikut Yesus berapa banyak anda mengucapkan atau mendengar pernyataan “Tuhan itu baik” atau “Bersyukur banget sama kebaikan Tuhan”. Pada umumnya ketika ditanya lebih lanjut jawabannya adalah karena Tuhan sudah melakukan mujizat, membukakan pintu pekerjaan, bertemu dengan pasangan hidup, dan seterusnya. Tentunya yang mengalami hal demikian ketika ditanya apakah mereka mengasihi Yesus, tentu menjawab “Ya!” sangatlah mudah.

Meskipun pertanyaan Yesus tersebut terdengar sangat sederhana, sadarkah anda bahwa sebenarnya maknanya sangat dalam? Bahkan Petrus sampai menjawab “Tuhan engkau yang tahu hatiku dan lihatlah betapa diriku mengasihi Engkau!”. Lihat bahwa pertanyaan Yesus ternyata tersebut lebih dari sekedar jawaban ya dan tidak. Dia seakan – akan bertanya, “Atas dasar apa kau mengasihi Aku?”, atau bila diterjemahkan dalam bahasa yang mudah, apabila mujizat belum terjadi, pintu belum terbuka, atau belum bertemu dengan pasangan hidup, apakah anda tetap dapat mengasihi Tuhan?

Apabila mujizat belum terjadi, pintu belum terbuka, atau belum bertemu dengan pasangan, apakah anda tetap dapat mengasihi Tuhan?


Saya menemukan bahwa setidaknya terdapat tiga level kedalaman mengenai alasan seseorang untuk mengasihi Yesus. Sambil membaca ini, saya juga ingin mengajak anda untuk merenungkan bersama poin manakah yang lebih mendeskripsikan diri anda?

1. Mengasihi Tuhan karena berkat-Nya
Dalam 40 tahun perjalannya dengan Tuhan, bangsa Israel melihat dan merasakan bahwa mujizat itu sangat nyata. Mulai dari perlindungan siang dan malam, sungai yang terbelah, kesembuhan, kemenangan atas musuh dan masih banyak lagi. Akan tetapi pertanyaannya adalah apa yang terjadi ketika mereka tidak sedang melihat itu semua? Mereka pun bersungut – sungut bahkan sampai ingin meninggalkan Tuhan dengan menyembah berhala.

Motivasi pertama untuk mengasihi dan mengikut Yesus adalah karena berkat-Nya. Di level kedalaman ini harus ada hal yang dilihat secara nyata barulah seseorang dapat berkata Tuhan itu ada. Ironisnya bahkan setelah mengikut Yesus dalam pelayanan-Nya, salah seorang murid pun ternyata masih ada yang di tahap ini! Dalam Yohanes 20:24-29, Tomas baru mau percaya pada kebangkitan Yesus sampai dia mencucukkan jarinya sendiri di tangan-Nya.

Ingat iman itu berbeda dengan pernyataan seeing is believing. Yesus berkata di Yohanes 20:29 bahwa “… Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

2. Mengasihi Tuhan karena perbuatan-Nya
Apabila di tahap sebelumnya seseorang hanya melihat hasil akhirnya, di level kedalaman kedua seseorang mulai melihat perbuatan dan proses-Nya. Fokusnya bukan hanya garis finish melainkan juga jalan untuk menuju kemenangan tersebut. Di tahap ini seseorang mengasihi bukan hanya karena “berkat” melainkan karena Tuhan “memberkati”.

Ada dua perbedaan dasar dari level ini dengan sebelumnya. Pertama adalah adanya pengharapan. Meskipun proses itu sangatlah panjang, tetapi pengharapan itu ada karena kita tahu bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu. Pengharapan itu adalah buah dari ketekunan dalam setiap tantangan dan ujian (Roma 5:3-5).

Selain itu perbedaan kedua adalah adanya pengertian akan waktunya Tuhan. Ketika anda mulai melihat proses dan perbuatan-Nya Tuhan, anda akan melihat bigger picture dari rencana-Nya. Anda tidak lagi berfokus pada satu mujizat demi mujizat, melainkan mulai mengaitkan itu dengan skala waktunya Tuhan. Pada Keluaran 23:29-30 Tuhan berkata bahwa Ia tidak akan memberikan tanah perjanjian itu langsung seluruhnya kepada bangsa Israel melainkan sedikit demi sedikit. Hal ini karena Tuhan tahu bahwa ketika diberikan seluruhnya maka bangsa Israel akan mengalami masalah lain.

Meskipun tahapan kedua baik, akan tetapi saya menemukan seringkali sebagai orang percaya banyak yang berhenti sampai disini saja. Hal ini membuat banyak yang menyerah di tengah proses yang panjang dan pada akhirnya tidak lagi mengasihi Tuhan.

3. Mengasihi karena-Nya
Level ketiga dari alasan untuk mengasihi Tuhan bukan karena berkat, tindakan memberkati, melainkan karena karakter Tuhan yang mau dan mampu memberkati. Fokusnya adalah Tuhan itu sendiri dan kerinduan yang lebih dalam untuk mengenal karakter-Nya. Ada satu ayat yang menarik di Mazmur 103:7 terjemahan New Living Translation:

He revealed his character to Moses and his deeds to the people of Israel.


Ada perbedaan khusus yang diberikan kepada Musa. Apabila bangsa Israel melihat mujizat dan perbuatan, Musa mendapatkan hal yang jauh lebih berharga yakti pengenalan akan karakter Tuhan. Dibalik semua perbuatan baik yang Tuhan tunjukkan kepada anda, Dia ingin membuat anda menjadi kenal lebih dalam akan Dia. Motivasi anda untuk mengasihi adalah memang karena Dia itu Allah, Juruselamat, Raja Damai, Penasihat Ajaib, dan masih banyak lagi. Apa yang terjadi di depan mata anda tidak akan mengubah pandangan anda bahwa Tuhan itu Tuhan. Meskipun mujizat itu belum ada atau bahkan kesembuhan yang anda nantikan itu tidak terjadi, tetap anda bisa mengasihi karena anda tahu bahwa Tuhan itu tetap penyembuh.

Karena Dia Apa Adanya
Mengapa Musa menjadi mengenal karakter Tuhan meskipun melihat hal yang sama dengan bangsa Israel? Jawabannya adalah Musa memiliki kerinduan untuk mengenal Dia. Perhatikan perbincangan pribadi Musa dengan Tuhan di Keluaran 33:13:

“Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau ….”

Saya ingin mengajak anda untuk merenung sejenak dan coba lihat kebaikan dan perbuatan Tuhan. Pertanyaan yang seharusnya anda katakan adalah “Apa yang sudah Tuhan lakukan tahun ini?”. Lebih dalam daripada itu adalah “Karakter Tuhan apa yang disingkapkan kepada saya di tahun ini?”. Setiap perbuatan-Nya bertujuan untuk membuat anda mengenal Dia. Hal ini yang seharusnya menjadi motivasi anda untuk mengasihi karena Dia adalah Dia.

Jadi bagaimana dengan anda? Apakah anda bisa mengasihi Tuhan karena Dia apa adanya atau justru karena Dia ada apanya?


Sparks! merupakan sarana renungan kristen yang bertujuan untuk memperlengkapi kehidupan saat teduh setiap orang percaya. Sparks! akan membagikan konten renungan dalam berbagai topik mulai dari doa, iman, keselamatan, kasih, komunitas, keluarga, dan masih banyak lagi. Jika setelah membaca artikel ini anda tergerak untuk berkontribusi melalui wadah ini, anda dapat menghubungi kami melalui email ke daylightworks@gmail.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s