Embrace Your Weakness

ditulis oleh Richelle Kwok, 30 Mei 2021


Seorang pembicara pernah berkata dalam acara gereja bahwa dirinya sedang berdiri dihadapan orang-orang hebat. Hal yang pertama kali muncul di kepala saya ketika duduk mendengarkan adalah “Saya? Orang hebat? Tidak salah?”. Apakah kalian pernah merasakan penyesalan atau perasaan bersalah ketika melakukan sebuah kesalahan sehingga pada akhirnya cenderung berkata-kata negatif kepada diri sendiri? Ketika menolong orang lain lalu ada perasaan tidak pernah cukup sehingga akhirnya merasa bersalah? Merasa cemas saat berada dilingkungan yang besar dan cemas akan perspektif orang terhadap diri kita? Pernah gagal sehingga membentuk diri untuk mempunyai paradigma pasti akan gagal lagi padahal mungkin belum memulainya? Inilah perasaan-perasaan yang saya rasakan sehari-hari. Pengalaman-pengalaman di masa lalu yang kita pelajari sehingga membentuk bagaimana perspektif kita atau cara kita melabel diri sendiri, bertindak dan merasakan. 

Di artikel sebelum ini saya bercerita tentang mengampuni orang-orang yang pernah menyakiti kita (Diubahkan Saat Berdoa Untuk Mereka Berubah), namun Tuhan ingatkan untuk saya dapat mengampuni dan berdamai dengan diri saya sendiri juga. Tidak pernah saya sangka pada akhirnya saya menaruh nama saya di list orang-orang yang perlu saya doakan. Saya sadar bahwa perasaan-perasaan negatif ini merupakan kelemahan terbesar saya yang selalu saya hadapi setiap harinya. Namun, Tuhan biarkan saya belajar banyak hal ketika belajar mengampuni diri sendiri dan berdoa ketika perasaan-perasaan itu kembali muncul.

Take It All in Prayer
Judul ini merupakan lagu lama yang ditulis oleh Joseph Scriven yang diliriknya tertulis “Can we find a friend so faithful. Who will all our sorrows share? Jesus knows our every weakness. Take it to the Lord in prayer”. Tahukah bahwa kelemahan ini bisa menjadi kekuatanmu ketika kita mau menyerahkannya ke Tuhan? Siapa sangka ketakutan yang besar untuk berada di sosial membuatku menulis dan memberkati orang lain dengan cara ini? Tuhan tidak pernah menciptakan anakNya yang serupa dan segambar denganNya untuk merasa minder, merasa kurang, ataupun rendah diri. Melainkan punya kepercayaan bahwa segala sesuatunya dapat kita lakukan bersama Tuhan yang memberikan kekuatan (Filipi 4:13). Saat ini saya bersyukur atas semua perasaan negatif yang pernah muncul, karena hal tersebut membuat saya belajar untuk lebih lagi rendah hati dan mengerti bahwa apa yang dimiliki dan telah dicapai sekarang bukan semata karena usahamu melainkan campur tangan Tuhan. 

Dia adalah pribadi yang mengerti setiap keburukanmu dan tetap memilih untuk bilang bahwa kita ini wonderfully and fearfully made

Percayalah, ketika kamu punya kelemahan, tidak semua orang bisa menerima, bahkan keluargamu sekalipun mungkin tidak pernah menjamin mereka bisa menerima sebagaimana kamu apa adanya. Mungkin akan ada orang lain yang memberikan label, menertawakan, atau memandang rendah atas keterbatasan yang kamu miliki, atau bahkan mungkin dirimu sendirilah yang melakukan demikian. Tetapi percayalah, ada satu pribadi yang tidak akan pernah melakukan itu, namanya Yesus. KasihNya tidak akan pernah berkurang kepadamu dalam kondisi apapun. Dia adalah pribadi yang mengerti setiap keburukanmu dan tetap memilih untuk bilang bahwa kita ini wonderfully and fearfully made (Mazmur 139:14). 

For When I am Weak, Then I Am Strong (2 Korintus 12:9-10)
Sekarang saya mengerti bahwa memang kita punya keterbatasan dan kelemahan, tetapi tujuan Tuhan menaruh hal ini didalam kita adalah supaya kita rendah hati bukan rendah diri. Kalau kita tidak punya kelemahan kita pasti akan sombong, bahkan untuk mengakui bahwa diri ini lemah saja terkadang sulit karena pride kita. Tetapi hanya dengan kita menjadi kecil barulah kuasa Tuhan besar.

Memang kita punya keterbatasan dan kelemahan, tetapi tujuan Tuhan menaruh hal ini didalam kita adalah supaya kita rendah hati bukan rendah diri

Satu hal yang selalu saya rasakan ketika menceritakan tentang pengalaman pribadi saya di masa lalu, baik di artikel ataupun secara langsung di komsel-komsel adalah “Apakah orang lain akan berpikir saya aneh/seram/orang jahat?” “apakah orang lain akan menilai saya adalah seorang yang gagal ketika menceritakan tentang kegagalan?”. Dulu saya seringkali bisa berhari-hari memikirkan tentang apa kata orang, rasa deg-deg an yang berhari-hari ketika bercerita tentang kegagalan, kisah masa lalu atau tentang kelemahan sendiri terutama di article karena semua orang dapat mengakses. Tetapi sekarang, saya bersyukur karena perasaan tersebutlah yang membuat saya belajar rendah hati karena mengingat semua pencapaian dalam perubahan diri atau karir dan lainnya bukan karena diri saya melainkan karena Tuhan seorang. “God has a tendency of picking up a nobody, to become a somebody, in front of everybody, without asking nobody.” (@ryanlestrange). Tetapi ingat, untuk menjadi “somebody” ada kalanya kita perlu menjadi “nobody”. 



Sparks! merupakan sarana renungan kristen yang bertujuan untuk memperlengkapi kehidupan saat teduh setiap orang percaya. Sparks! akan membagikan konten renungan dalam berbagai topik mulai dari doa, iman, keselamatan, kasih, komunitas, keluarga, dan masih banyak lagi. Jika setelah membaca artikel ini anda tergerak untuk berkontribusi melalui wadah ini, anda dapat menghubungi kami melalui email ke daylightworks@gmail.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s