Holiness is What Makes You Different

RGC Ladies Talk Episode 3 dengan narasumber Nancy Limantono
ditulis oleh Putri Eveline dan Felicia Sonya, 4 Oktober 2020


Setiap kita memiliki hak istimewa yang diberikan oleh Tuhan dari sejak awal penciptaan. Tentunya hak istimewa kita miliki itu harus digunakan dengan bijak. Kita mengenal hak istimewa itu dengan sebutan kehendak bebas. Ketika seseorang mengambil keputusan, apapun itu, maka akan ada dampak yang mengikuti. Keputusan yang kita ambil adalah hal yang penting karena sedikit banyak akan menentukan masa depan kita di dalam kedaulatan dan rencana Tuhan.

Memilih hidup di dalam kekudusan adalah keputusan yang harus dibuat setiap harinya secara sadar dan sengaja, seperti yang tertulis di 1 Petrus 1:14 

Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.

1 Petrus 1:14


Setiap harinya kita diperhadapkan oleh banyak sekali pilihan. Dari ayat ini kita dihimbau dan diingatkan kembali untuk memilih hidup sebagai orang percaya yang taat dengan tidak menggiring diri sendiri untuk masuk ke dalam pencobaan dan kebodohan. Kalau ibaratnya orang seringkali bilang “Hidup sudah banyak masalah, jangan buat masalah lagi” atau “Kalau tidak mau berdrama di dalam hidup ini, janganlah memulai untuk menjadi penulis naskahnya”. Seringkali kita sudah tahu situasi terburuk yang mungkin akan terjadi di depan kita, lalu kita lengah dan malah memilih untuk masuk ke dalamnya.

Kalau tidak mau berdrama di dalam hidup ini, janganlah memulai untuk menjadi penulis naskahnya


Hal-hal yang seringkali terbesit di dalam pikiran kita saat mendengar kata “kudus” atau “kekudusan” adalah menjaga hidup kita untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik atau tidak layak. Mungkin ini adalah beberapa contoh tentang hidup kudus yang seringkali kita ketahui : tidak berbohong, tidak mencuri, tidak merokok, tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, dll. Semua hal yang seringkali kita ketahui dan diawali dengan kata ‘tidak’.

Dan ketika kita gagal untuk menjauhi semua larangan yang ada, kita menjadi takut bahkan merasa tidak layak untuk ada bersama di dalam kekudusan Tuhan. Pandangan kita menjadi berubah karena Tuhan yang kita kenal, dengan segala kebaikan-Nya, menjadi sosok yang sangat jauh dan sangat sulit untuk kita temui. Pernahkah kamu merasa demikian?

Memilih untuk hidup di dalam kekudusan adalah lebih dari sekedar mengikuti hukum Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Karena setelah kita mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, disitulah kita dikudusukan oleh Tuhan. Kita tidak seharusnya melihat kekudusan sebagai sekelompok aturan yang selalu mengatakan ‘JANGAN/TIDAK’, akan tetapi melihatnya sebagai arti yang sesungguhnya dari kasih. Kasih yang membawa kita kepada jawaban ‘YA’ untuk setiap panggilan-Nya.

Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

1 Petrus 1:16


Menjadi kudus berarti kita memisahkan diri kita dari keinginan / ke-egoisan diri sendiri untuk dapat dikhususkan oleh Tuhan menjalani panggilan-Nya dalam hidup kita. Hidup yang dipisahkan untuk Tuhan erat kaitannya dengan istilah “wholeness” (keseluruhan). Seperti halnya ritual mengurbankan hewan secara utuh pada perjanjian lama supaya dapat menjadi kudus dihadapan Tuhan, begitupun juga kita harus ‘mengurbankan’ diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Tuhan menginginkan hidup kita sepenuhnya dengan segala kekuatan dan kelemahan, semua talenta, semua mimpi dan seluruhnya yang ada pada diri kita. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan pada kita, yang Tuhan butuhkan adalah keseluruhan hidup kamu dan saya. Karena sesungguhnya kita telah disempurnakan oleh pengurbananNya diatas kayu salib.

Tuhan tidak menuntut kesempurnaan pada kita, yang Tuhan butuhkan adalah keseluruhan hidup kamu dan saya.

Jika kita sudah menyadari makna yang sesungguhnya dari kekudusan, secara sadar atau tidak kita akan secara otomatis memfilter setiap pikiran dan perkataan kita untuk dapat mengatakan “TIDAK” pada suatu perbuatan karena adanya konsekuensi kita telah menjawab “YA” pada kekudusan. Bagaikan sepasang suami istri yang telah berkata “YA” untuk berjanji mengasihi pasangan dan keluarganya, maka merekapun akan mengurbankan ke-egoisannya masing-masing dan mengatakan “TIDAK” untuk apapun yang hanya memberikan kesenangannya sendiri.  Begitupun ketika kita menyerahkan hidup kita pada Tuhan untuk hidup kudus. Tuhan akan menerima kamu seutuhnya dan mari kita berkata “YA” kepada Tuhan untuk setiap panggilan-Nya.


RGC Ladies Talk adalah sebuah komunitas untuk setiap wanita kesayangan Tuhan berkumpul dan saling menguatkan, sehingga mampu menjalankan peranannya menjadi seorang penolong di dalam kehidupan sehari-hari.

Sparks! merupakan sarana renungan kristen yang bertujuan untuk memperlengkapi kehidupan saat teduh setiap orang percaya. Sparks! akan membagikan konten renungan dalam berbagai topik mulai dari doa, iman, keselamatan, kasih, komunitas, keluarga, dan masih banyak lagi. Jika setelah membaca artikel ini anda tergerak untuk berkontribusi melalui wadah ini, anda dapat menghubungi kami melalui email ke daylightworks@gmail.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s