Giving in Lack

ditulis oleh Richele Kwok, 8 Agustus 2020


Memberi merupakan suatu hal yang mungkin gak gampang bagi beberapa orang, terutama ketika kita ada dalam kondisi tidak berlimpah.

Saya teringat dimana saya yang selalu bergantung pada orangtua ketika saya masih di Indonesia untuk beli sesuatu. Di Australia, saya tinggal bersama adik, kakek nenek dan paman saya. Disinilah saya memutuskan untuk tidak lagi bergantung sama sekali dengan orangtua saya secara finansial, bahkan keluarga saya di Australia karena kakek nenek saya sudah pensiun. Awalnya berat karena sudah terbiasa dengan “diberi”, akan tetapi rasanya jadi berat sekali terutama ketika saya harus membayar sertifikat sebagai salah satu ketentuan untuk bekerja dibidang anak-anak dengan harga 40 juta rupiah per tahun.

Ditambah lagi saya ingin sekali membantu keluarga saya disini, baik dalam memasak untuk mereka setiap hari untuk mereka, membeli groceries shopping dan membayarnya. Tujuannya untuk meringankan mereka yang sudah lagi tidak berpenghasilan dan mengurangi beban mereka untuk memasak setiap harinya, mungkin hanya hal itu yang saya bisa lakukan saat ini. Hal ini tidak pernah saya lakukan sebelumnya sehingga saya sempat khawatir apakah saya bisa melakukannya dalam kondisi saya yang baru mendapat kerjaan dan bekerja full time setiap harinya.

Memilih Untuk Tetap Memberi
Saya teringat bahkan membeli seragam untuk bekerja saja saya enggan demi menghemat pengeluaran saya. Setiap hari saya selalu mencuci satu-satunya seragam saya dengan tangan lalu mengeringkannya pakai hair dryer malam-malam, jika keesokan harinya tidak kering, saya akan menggunakan seragam itu dengan kondisi masih setengah kering. Namun, ditengah kondisi seperti itu, saya tetap berusaha untuk memastikan sepulang kerja meluangkan waktu untuk memasak untuk makan malam besok dan selalu crosscheck bahan makanan di kulkas yang sudah habis dan apa yang harus dibeli lagi. Terkadang saya benar-benar selesai masak jam 8 atau 9 malam. Memberi membutuhkan pengorbanan, waktu, uang, tenaga, walaupun terkadang jujur saya ingin memiliki lebih banyak waktu untuk bisa beristirahat sepulang kerja. Meskipun masih ada kebutuhan pribadi yang ingin dibeli, tetapi saya memilih untuk membeli kebutuhan yang lebih penting yaitu bahan makanan seminggu untuk satu keluarga.

Tentunya kondisi ini semakin menjadi tekanan di tengah masa pandemi ini. Disaat yang bersamaan pula bulan itu saya juga tidak menerima gaji yang penuh. Hal ini karena saya bekerja secara casual dan tempat kerja saya sempat libur seminggu karena semester break. Akan tetapi saya terkagum dengan orang-orang yang berbagi di tengah pandemi ini, mungkin mereka sendiri pun sedang mengalami penurunan dalam ekonominya. Hal ini membuat saya teringat dengan teman-teman terdekat saya di Indonesia dimana ada yang mengalami lay-off, potongan gaji, sulit mendapat pekerjaan. Saya pun menjadi tergerak untuk membantu teman-teman saya dengan membeli produk-produk jualan mereka.


He is a Generous Father
Percayalah bahwa Tuhan tidak akan membiarkan anak-Nya kekurangan ketika mereka memberi walaupun tidak dalam kondisi yang berlimpah. Di tengah banyaknya pengeluaran dan terbatasnya pendapatan di bulan itu, siapa sangka di minggu terakhir saya mengetahui bahwa saya mengalami kenaikan gaji! Tidak hanya itu, siapa sangka 40 juta per tahun yang harus saya bayar untuk course saya, Tuhan mengubahnya menjadi hanya 200 ribu per tahun karena kartu sehat yang dikirimkan secara tiba-tiba oleh pemerintah disini! Sampai detik ini saya masih tercengang-cengang dengan pekerjaan tangan Tuhan yang selalu tidak bisa ditebak dan surprising. He is indeed a Generous Father!

Ketika kita tidak menahan berkat yang sudah Tuhan percayakan kepada kita untuk memberkati orang lain, Tuhan pun tidak akan menahan berkat-Nya untuk kita (Luke 6:38a). Tuhan tidak terbatas untuk memberkati kita hanya dalam bidang finansial. Berkat Tuhan dapat kita terima dalam berbagai macam bentuk. Misalnya dalam bentuk ketenangan dan damai sejahtera yang ada di dalam hati kita saat kita sedang khawatir, dalam bentuk teman-teman yang memberikan dukungan di saat kita sedang putus asa. Satu hal yang perlu kita ingat adalah motivasi kita memberi bukan kepada berkat yang akan kita terima setelahnya. Tuhan melihat ketulusan hati kita pada saat kita memberi. Biarkan Tuhan yang menentukan bagaimana cara memberkati kita, kapan akan memberkati kita, dan berapa banyak berkat yang akan kita terima sesuai dengan keperluan kita karena Dia Tuhan yang lebih mengerti.

Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus

Filipi 4:19


Giving is in Our Nature
Ketika kita sadar bahwa Bapa kita adalah Bapa yang suka memberi karena itu bagian dari karakternya, maka seharusnya kita pun sadar bahwa karakter itu pun seharusnya ada di dalam kita. Memberi itu bukan karena kita berlimpah, tetapi karena itu merupakan nature dari identitas kita sebagai anak Allah. Ketika kita taat untuk belajar dari jumlah yang kecil, kita akan dipercayakan lebih banyak lagi. Sama seperti Tuhan yang senang memberi dan memberkati anak-anak-Nya, biarlah memberi dan memberkati orang lain juga menjadi kebiasaan yang menyenangkan untuk kita semua.

Memberi itu bukan karena kita berlimpah, tetapi karena itu merupakan nature dari identitas kita sebagai anak Allah

Memberi tidak harus jumlah yang besar. Tuhan pun tidak pernah mempedulikan jumlah, melainkan hati yang tulus. Memberi bukan dalam hal uang saja, bisa dalam bentuk lain. Contoh, memberi waktu untuk orang lain walaupun kita masih sering kali kekurangan waktu. Memberikan pelukan ke orang-orang yang membutuhkan kehangatan walaupun kita mungkin sedang mengalami masalah.
Biarlah kita menjadi alat Tuhan dimanapun kita berada untuk memberkati orang lain di sekitar kita. Jadikan memberi sebuah kebiasaan, bahkan di saat kita belum ada dalam kondisi kelimpahan.


Sparks! merupakan sarana renungan kristen yang bertujuan untuk memperlengkapi kehidupan saat teduh setiap orang percaya. Sparks! akan membagikan konten renungan dalam berbagai topik mulai dari doa, iman, keselamatan, kasih, komunitas, keluarga, dan masih banyak lagi. Jika setelah membaca artikel ini anda tergerak untuk berkontribusi melalui wadah ini, anda dapat menghubungi kami melalui email ke daylightworks@gmail.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s