Spirit of Honor

ditulis oleh Eric Suryadi, 31 Mei 2020


Kita tumbuh di zaman di mana sikap hormat bukanlah sebuah sikap yang dianggap penting atau populer. Sebab sikap hormat dianggap lemah atau ketinggalan zaman. Kita hidup di zaman di mana sikap membangkang / disrespect terlihat lebih cool. Contoh simpel kita mendengar pepatah bahwa aturan ada untuk dilawan. Ketika ada tulisan di pintu jangan di buka, malah kita buka, dan kita senang melakukannya di hadapan publik bahwa kita baru saja melakukan hal yang melawan aturan.

Saya banyak menemukan sikap membangkang itu terutama di generasi muda. Ketika saya waktu dulu mengajar di sebuah sekolah, di pertemuan pertama awal saya masuk tahun 2010, setelah saya memberikan informasi mengenai aturan kelas (salah satu aturan kelas saya adalah kita tidak akan memulai kelas kalau masih ada sampah berantakan di lantai), tidak lama setelah itu seorang anak perempuan di kelas saya mulai mengotori lantai dengan alat pembolong kertas tanpa memasang penutupnya sehingga lantai jadi penuh dengan sampah kertas.

Saya mulai terganggu dengan tindakannya, dan ketika itu tepat ada OB yang sedang menyapu di luar kelas. Saya pinjam sapu tersebut lalu saya panggil nama murid saya itu dan memintanya untuk menyapu. Tahu apa yang bikin tambah kesal? Dia bilang, “Kenapa Pak?” Seolah-olah tidak ada yang salah. Saya hanya menunjuk sampah kertasnya, dan dia bilang “Saya gak bisa nyapu Pak”. Saya bilang sama dia oke ini waktu yang tepat untuk kamu latihan menyapu. Mulailah dia menyapu dengan mulut komat kamit (mungkin dia sedang menggunakan mantra voodoo terhadap saya).

Ketika saya sharing kejadian ini di antara teman – teman guru yang lain, mereka mengatakan sudah pasti dia tidak bisa menyapu karena dia salah satu anak paling kaya di sekolah tersebut. Saya katakan pada teman saya, bahwa saya tidak peduli mau dia anak Bill Gates sekalipun tapi dia harus belajar sikap hormat. Bertahun – tahun kemudian setelah dia lulus, saya menemukan dia sedang merokok di tempat yang tidak semestinya rokok diijinkan. Ketika saya panggil namanya, dia langsung membuang rokok itu. You know? Sikap disrespect tidak terjadi begitu saja secara instant, demikian pula dengan sikap hormat. Itu butuh dididik sejak masa kecil.

Itulah sebabnya orang tua mengajari kita sejak kecil untuk menyapa terlebih dahulu seseorang yang lebih tua, mempersilahkan orang yang lebih tua untuk jalan lebih dahulu, atau memberikan tempat duduk kepada mereka yang lebih senior. Di gereja semestinya budaya ini juga diajarkan sejak dini. Suatu kali saya pernah diundang khotbah di sebuah gereja, ketika tiba tempat ibadahnya masih kosong, saya pikir saya salah jam tapi setelah di cek ternyata betul jam ibadahnya. Jadi saya masuk di sana bersama Isteri saya lalu kita hanya duduk di sana, beberapa saat kemudian mulai berdatangan beberapa volunteer di sana tapi kita juga tidak disapa. Ketika saya chat kepada yang mengundang saya ternyata dia pun tidak datang. Semua terasa begitu awkward sampai WL selesai penyembahan dan dia tutup doa dan bilang amin. Semua hening dan saling celingak celinguk, saya juga serba salah ini waktunya saya maju atau bagaimana? Sampai seseorang di sebelah saya bertanya Ko yang khotbah bukan ya? Silahkan maju Ko. Bisa bayangkan situasi itu?

Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di kota tempat asalnya dan di antara sanak saudaranya serta keluarganya sendiri”

Markus 6:4 (FAYH)

Sebagian besar kita tahu kisah ini ketika Yesus sudah mulai naik daun dengan pelayanan-Nya, Ia kembali ke hometown nya di Nazaret. Ketika masyarakat melihat Yesus, mereka bingung darimana Yesus mendapatkan segala kebijaksanaan itu. Mereka tahu siapa Yesus yang sejak kecil hanyalah tukang kayu. Ketika mereka tidak menghormati Yesus, maka Alkitab mengatakan Yesus tidak dapat melakukan banyak hal di sana (Jesus wasn’t able to do much of anything there – Mark 6:5 MSG). Ini sangat penting untuk kita pahami baik-baik. Yesus dengan segala kuasa-Nya ada di sana di hadapan mereka, tapi ketika mereka tidak menghormati Yesus maka Yesus tidak dapat melakukan banyak hal. Pernah terpikir alasan kenapa sepertinya Tuhan berhenti bekerja di dalam hidup kita?

Dishonor shuts down the flow of God’s mighty works

Dengan cara apa kita tidak menghormati Tuhan? Coba pikirkan baik-baik. Apakah kita menghormati Tuhan jika kita datang ibadah terlambat setiap minggu? Apakah kita menghormati Tuhan jika melayani tanpa persiapan? Apakah kita menghormati Tuhan ketika kita setengah hati dalam menyembah Dia? Apakah kita menghormati Tuhan dengan perpuluhan dan persembahan kita? Ini masih lingkup kecil ketika ibadah saja, belum dengan kehidupan kita di weekdays. Seperti apakah kita menghormati Tuhan dengan apa yang kita lihat dengan mata kita? Dengan kata-kata yang diucapkan mulut kita?

Jangan pernah mempertanyakan Tuhan atau komplain sama Tuhan kalau Ia tidak melakukan sesuatu dalam hidup kita sementara hidup kita tidak menghormati Dia. Mungkin bukan lagu atau tim PW nya yang bermasalah, mungkin bukan khotbahnya yang bermasalah, tapi karena kita tidak bersikap hormat sehingga kita tidak mengalami apa – apa.

Kita akan mendapatkan yang terbaik dari seseorang kalau kita menghormati dia. Kata honor berasal dari kata Kabad (Hebrew) yang artinya bobot, bernilai. Dari kata honor kita dapatkan honorarium / salary / gaji. Gaji adalah bobot yg diletakkan oleh perusahaan terhadap diri kita. Dalam bahasa SDM itu adalah Job Value. Job Value yang dimiliki staf admin berbeda dengan yang dimiliki kepala bidang, bobotnya berbeda jadi tentu gajinya berbeda. Kalau mau naik gaji, cara paling elegan adalah naikkan bobot kita. Naikkan nilai kita, itu akan termanifestasi dalam gaji yang kita akan terima.

Tong kosong nyaring bunyinya, tetapi jika ada isinya dan berat, tentu tong itu tidak akan seberisik sebelumnya. Kita perlu punya bobot untuk menjadi orang yang terhormat. Perhatikan baik-baik orang yang terhormat tidak akan sembarangan bicara dan ketika mereka berkata-kata itu penuh dengan hikmat. Beda dengan seseorang yang seperti tong kosong, kata-kata mereka meaningless dan bahayanya mereka senang untuk bicara. Apalagi bicara yang merendahkan orang lain. Kita butuh mengingat sekalipun sedang make a joke jangan sampai kita bersikap tidak hormat dan merendahkan orang lain.

Wise man talk because they have something to say; fools, because they have to say something

Plato

Rasa hormat tidak serta merta datang dengan sendirinya, ia butuh didapatkan dan diusahakan. Caranya bagaimana? Paling pertama adalah tempatkan rasa hormat pada diri anda sendiri, setelah itu tempatkan rasa hormat pada yang lain. Sangat sulit untuk menghormati orang lain ketika anda tidak dapat menghormati diri anda sendiri. Sama halnya sulit sekali kita menghormati Tuhan kalau kita saja memandang rendah diri kita.

If you believe the rest of your life that you are worthless, it will be very hard for you to worship a God who thought you were worth dying for

Steven Furtick

Paling mudah melihat apakah seseorang memiliki nilai hormat adalah ketika ia berinteraksi dengan orang lain yang secara status sosial lebih di bawah seperti OB, CS, Sopir dll. Saya selalu biasakan mengucapkan permisi ketika ada OB sedang mengepel di WC dan mengucapkan terima kasih untuk mereka. Itu hanya hal kecil yang dapat mengubah hati mereka di sepanjang hari. Mungkin beberapa dari kita merasa susah untuk menghormati orang di sekeliling kita yang kita lihat tidak pantas untuk dihormati seperti orang tua yang diktator, teman yang makan teman, atau bahkan pimpinan galak di kantor, tetapi pikirkan ini, dengan tidak menghormati, apakah itu akan membuat keadaan menjadi lebih baik?

Tentu tidak. Malah sebaliknya, bisa jadi kelakuannya menjadi semakin buruk terhadap kita. Yang dirugikan tentu diri kita sendiri, tetapi jika kita mencoba untuk menghormati meski kita tidak diperlakukan dengan baik, maka sebenarnya kita sedang memutar balik keadaan, menantikan sebuah terobosan, dan mengundang yang terbaik dari Tuhan untuk datang.

Kita dapat melihat teladan Daud ketika ia dijadikan the most wanted person dead or alive oleh Saul. Berkali-kali Daud ada dalam kesempatan untuk membalas tindakan raja Saul, tapi selalu ia mengingatkan dirinya bahwa ia harus menghormati raja Saul karena Saul adalah raja yang diurapi Tuhan. The spirit of honor Daud inilah yang sangat disukai Tuhan dan maka itu Daud begitu ditinggikan oleh Tuhan.

Saya mengalami hal ini belum lama ini, saya mendapatkan pimpinan yang sangat sulit sekali dihormati. Ternyata tepat bahwa hanya karena anda memiliki posisi, belum tentu dengan otomatis orang lain akan menghormati anda. Bos saya ini sangat moody dan dia tidak segan-segan memarahi karyawannya di depan publik. Suatu kali saya yang kena bagian. Respon saya ketika diomelin adalah shallom, God bless you! Tentu saja tidak, saya juga penuh dengan emosi dan hanya bisa memendamnya karena tidak bisa dilampiaskan. Tapi ketika saya cooling down Tuhan mulai intervensi dan Dia menantang saya untuk mulai mendoakan bos saya ini.

Di point ini saya tidak dapat paham, tapi saya ingat satu hal bahwa Obedience unlocks understanding. Understanding can wait, but not obedience. Kalau kita mencoba memahami segala sesuatu lebih dahulu sebelum taat, maka kita akan kehabisan tenaga dan waktu untuk memahami, ujung-ujungnya kita sudah kehilangan hati untuk taat. Tuhan tidak memanggil kita untuk paham tapi untuk taat. Sama seperti orang tua meminta kita taat untuk sikat gigi, kita tidak paham waktu kecil, yang diminta hanya ketaatan sampai suatu kali kita paham oh ini toh kenapa dulu diminta taat untuk sikat gigi. Tapi jika kita berdebat untuk minta jawaban atas pertanyaan kita, dikasih jawaban pun kita belum tentu sampai pada level dapat memahami, karena itu Dia minta kita hanya taat dulu saja.

Satu hal yang saya tahu bahwa standar Tuhan melihat apakah kita mengasihi dan menghormati Dia adalah apakah kita taat kepada-Nya? Banyak kali kita klaim bahwa kita sudah taat mengikuti yang Dia perintahkan namun kenapa tidak ada perubahan? Coba kita refleksikan bagaimana dengan sikap hati / attitude kita saat kita menaati-Nya? Apakah dengan sikap hormat atau dengan bersungut – sungut?

Tidak mudah awalnya, tapi saya hanya bisa lakukan saja. Ajaibnya, tiba-tiba jam 6 pagi bos saya chat dan bilang pagi ini tolong ketemu dengan saya. Saya sudah berpikir negatif setelah membaca chat tersebut. Tapi ketika saya ketemu dengan dia, tiba-tiba dia mengajak saya salaman dan dia meminta maaf atas perlakuannya kepada saya. Kita lalu rekonsiliasi dan pada akhirnya Tuhan membukakan pintu lain bagi saya untuk promosi pindah ke divisi yang lebih cocok bagi saya.

So humble yourselves under the mighty power of God, and at the right time He will lift you up in honor.

1 Peter 5:6 (NLT)

Saya mau tutup dengan kisah ini:

Kisah seorang prajurit muda yang baik hati tapi ia tewas di perang Vietnam karena menolong temannya. Orangtua anak yang baik hati ini mengajak makan malam teman anak yang diselamatkan ini namun ternyata anak ini seorang berkarakter buruk yang datang mabuk – mabukan ketika makan malam, orang tua itu saling berpandangan dan mengatakan anak kita harus mati demi orang seperti ini. Ini persis seperti yang dilakukan Yesus bagi kita.

Jika kita menghormati apa yang telah Ia lakukan di atas kayu salib, kita tidak akan hidup seenaknya. Hidup kita adalah untuk membawa kehormatan bagi Dia. Jangan kita hidup seperti prajurit berkarakter buruk tadi yang tidak menghormati pengorbanan temannya. Pilihan selalu di tangan kita, dan setiap pilihan selalu diikuti oleh konsekuensi. Namun, kita butuh selalu mengingat ketidakmauan kita untuk menghormati Tuhan akan menutup / shut down kuasa Tuhan untuk bekerja di dalam hidup kita.


Eric Suryadi adalah penulis buku “Live Large” . Untuk informasi lebih lanjut, anda dapat menghubungi via sosial media @ericsruyadi

Sparks! merupakan sarana renungan kristen yang bertujuan untuk memperlengkapi kehidupan saat teduh setiap orang percaya. Sparks! akan membagikan konten renungan dalam berbagai topik mulai dari doa, iman, keselamatan, kasih, komunitas, keluarga, dan masih banyak lagi. Jika setelah membaca artikel ini anda tergerak untuk berkontribusi melalui wadah ini, anda dapat menghubungi kami melalui email ke daylightworks@gmail.com.

3 Replies to “Spirit of Honor”

  1. Spirit of honor harus ditanamkan sedini mungkin pada anak-anak, karena nilai seperti ini mencerminkan karakter seseorang. Karakter seperti inilah yang mulai luntur pada generasi jaman now.

    Like

  2. Terima kasih atas sharingnya yg luar biasa Pak Eric…memang hari2 ini byk orang yg tidak terlalu mempedulikan lagi cara menghormati orang lain maupun Tuhan sndiri. Di gereja saat kotbah pun msh byk yg main hp, makan permen, dll. Perlu ada pemahaman kembali arti hormat dan aturan tegas agar orang2 bisa menyadari kalau perbuatannya itu tidak menghormati Tuhan. Saya harap byk pendeta bisa membawakan topik penting ini untuk bahan kotbahnya 😇 God bless. 😁

    Like

  3. Thank you for this timely words! Topik honor adalah pembicaraan yang jarang dibahas akan tetapi sangat krusial di masa ini. God bless your ministry!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s