Ada Manusia, Ada Konflik

ditulis oleh Angelica Setiady, 9 Mei 2020


“Selama masih ketemu manusia, pasti ketemu konflik.”

Begitu kata dosen saya saat kuliah psikologi dulu. Saya menyadari bahwa manusia itu sangat rumit. Bahkan setelah 23 tahun hidup sebagai manusia dan mengambil jurusan yang sangat people-oriented, saya tetap tidak luput dari konflik. Salah satunya yang belum lama terjadi adalah konflik dengan ibu saya. 

Awalnya, saya lihat bahwa HP ibu saya sudah lama dan beberapa kali hang. Dengan penuh inisiatif, saya menyiapkan HP yang lebih baru dan memindahkan semua data ibu saya ke HP tersebut. Tetapi hal yang tidak saya sangka, ibu saya menjadi marah sekali dan meminta saya untuk mengembalikan data tersebut ke HP yang lama. Saya pun ikut marah karena dari sudut pandang saya, saya merasa upaya saya untuk memberikan sesuatu tidak dihargai. Saya juga merasa membuang-buang waktu karena harus mengatur ulang HP yang lama.

Berbicara mengenai konflik, saya jadi teringat pada apa yang tertulis di Matius 5:23-24: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu”.

Yesus menyatakan betapa pentingnya untuk berdamai ketika ada pertikaian yang belum selesai. Jika kenyataannya anda dan saya akan terus mengalami konflik dan firman berkata demikian, bukankah manajemen konflik dan rekonsiliasi menjadi hal yang sangat penting untuk kita pahami? 

Berikut ini merupakan empat hal yang saya ingin bagikan agar dapat membantu anda meresponi konflik sebagai umat percaya:

1. Minta Hikmat Tuhan
Sebagai sarjana psikologi saya terlatih untuk menjadi pendengar dan penasihat yang baik. Namun ketika saya mulai emosi, itu beda cerita. Kata -kata bisa terucap begitu saja tanpa saya pikirkan dampaknya bagi orang lain. Bahkan ketika anda merasa sudah mampu menguasai diri dalam berbagai situasi, belum tentu orang yang anda hadapi memiliki pendekatan yang sama dalam menyelesaikan konflik. Inilah pentingnya untuk memiliki hikmat ketika akan memberikan respon.

Hal pertama yang perlu anda ketahui ketika menghadapi suatu pertikaian adalah menyadari bahwa anda memerlukan hikmat dari Tuhan. Sebelum anda melontarkan respon anda, cobalah ambil waktu sejenak untuk meminat hikmat kepada Tuhan agar dapat mengendalikan diri anda.

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit —, maka hal itu akan diberikan kepadanya.

Yakobus 1:5

2. Bercermin Sebelum Menyalahkan Orang Lain
Seringkali anda tidak sadar bahwa tindakan andalah yang justru menimbulkan pertengkaran. Respon yang paling sering keluar adalah langsung menyalahkan respon orang lain.

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Matius 7:3

Setelah saya renungkan konflik yang saya hadapi diatas, saya menyadari bahwa ada bagian dari saya yang juga ikut menimbulkan pertikaian ini.
Dari perspektif saya, saya enggan memulai perbincangan dan meminta maaf karena rasa takut—takut menimbulkan konflik yang lebih besar, takut kehilangan harga diri, dan sebagainya. Hal ini tentunya memicu respon yang tidak tepat dari saya.

Cobalah bercermin dahulu dan bertanya “Apakah tindakan saya kurang bijak sehingga membuat pertikaian ini?”. Hal tersebut perlu anda renungkan sebelum bertindak dalam suatu konflik agar anda dapat menghadapi orang tersebut dengan kerendahakan hati.

3. Dengar, Pahami, dan Kasihi
Sebenarnya kalau saya renungkan juga, ibu saya marah bukan karena tidak menginginkan HP baru, melainkan ia takut karena tidak bisa mengoperasikan HP yang baru. Setelah mendengar seluruh komentarnya, saya jadi menyadari bahwa ia menggunakan kemarahan sebagai kamuflase rasa takut. Ia takut kehilangan kemampuannya menggunakan HP dan ia takut kehilangan data yang saya pindahkan. Rasa takut membuat saya dan ibu saya sulit memahami maksud dan tujuan masing- masing sampai akhirnya kami bertengkar.

Maksud saya dari poin ini adalah cobalah untuk mendengar dan pahami perspektif dari pihak lain. Bertanyalah “Mengapa dia bisa responnya seperti itu?”. Setelah itu belajarlah untuk meresponi dengan kasih. Saya percaya bahwa kasih itu adalah respon terbaik yang diajarkan oleh Yesus dalam meresponi semua situasi.

4. Fokus Pada Rekonsiliasi Dibandingkan Resolusi 
Pada akhirnya, ibu saya tetap mau menggunakan HP yang lama walaupun saya sebetulnya tidak setuju karena HP yang baru lebih berkualitas dan dapat digunakan untuk berbagai aplikasi. Namun, saya diingatkan bahwa manusia diciptakan berbeda dan perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.

Anda harus belajar untuk membedakan antara masalah yang harus diselesaikan dan tensi yang harus dikendalikan. Jika memang pendapat itu tidak bisa dipersatukan, bukan berarti kita tidak bisa berdamai. Kita tetap bisa fokus pada rekonsiliasi hubungan.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Efesus 4:32

Proses memahami manusia memanglah tidak mudah. Selalu saja ada perbedaan yang dapat menimbulkan pertikaian yang tidak mengenakkan hati. Akan tetapi biarlah melalui konflik, anda dan saya belajar untuk semakin rendah hati, saling mengasihi dan mengampuni. Terlebih lagi biarlah melalui setiap konflik ini juga anda akan diproses untuk semakin serupa dengan Kristus.


Sparks! dibuat dengan suatu kerinduan agar semua orang dapat berkontribusi membagikan api kecilnya kepada orang lain. Jika setelah membaca artikel ini anda tergerak untuk berkontribusi melalui wadah ini, anda dapat menghubungi kami melalui email ke daylightworks@gmail.com.

2 Replies to “Ada Manusia, Ada Konflik”

  1. Blessed by this, thank you for showing your vulnerability and bravery to share it in this article Angel!

    Serves as a reminder for me kalau yg lebih penting dalam konflik itu rekonsiliasi hubungan, bukan resolusi siapa yg bener or salah.

    Like

Leave a Reply to Darmintra Tandrawijaya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s