How I Come to Christianity


ditulis oleh Darmintra Tandrawijaya, 18 November 2019


“Aku penasaran deh, kenapa Darmin pindah ke Kristen ya?”

Pertanyaan tersebut dibisikkan oleh salah satu teman saya saat hari Minggu kemarin setelah kami beribadah bersama di suatu gereja yang berlokasi di Jakarta Selatan. Yang lucu adalah ia menanyakan pertanyaan ini secara tidak langsung melalui teman saya yang lainnya.

Saat itu kami bertujuh mengikuti ibadah pada siang hari dan setelah selesai kami makan bersama terlebih dahulu sebelum kembali pulang ke rumah masing-masing. Saya yang membawa mobil mengantarkan seorang teman yang kebetulan searah dengan saya. Di tengah perjalanan, dia menyampaikan bahwa saat makan tadi ia dibisikkan pertanyaan tersebut oleh teman yang disampingnya (mereka berdua duduk agak jauh dari saya), namun tidak berani ditanyakan langsung ke saya. Kemudian ia pun bertanya,”Jadi, gimana nih jawabannya?”

Saya pun hanya bisa tersenyum,”Wah harusnya lain kali, tanya langsung saja, ga bakal diapa-apain kok.”

Untuk teman – teman ketahui, saya sebelumnya berasal dari keluarga Katolik di mana saya telah dibaptis di Katolik dari kecil dan saya bersama dengan keluarga saya pun setiap minggu pergi ke gereja Katolik. Namun, ironisnya dari dulu saya tidak pernah melihat pergi ke gereja sebagai suatu hal yang penting di luar dari kebiasaan dan rutinitas mingguan saja. Karena orang tua menginginkan saya pergi ke gereja pada hari minggu, demi membuat mereka senang saya tidak pernah mempertanyakan tentang kenapa harus pergi ke gereja ataupun nilai-nilai seperti apa yang ingin saya pelajari di gereja. Saya bahkan seringkali tidak tahu untuk apa saya pergi beribadah selain berusaha menyenangkan orang tua saja, tentu hal ini lebih baik daripada saya tidak diberikan uang jajan di pikiran saya.

Saat saya kecil, saya selalu diajarkan untuk menyayangi adik saya oleh orangtua. Namun, yang saya lihat terjadi di keluarga saya adalah orangtua yang selalu bertengkar, ribut dengan saudara sendiri sampai tidak mau saling bertemu, dan selalu mengutamakan uang diatas hubungan antar saudara. Lucu sekali bukan? Saya diminta untuk mengasihi saudara saya sendiri namun saya tidak pernah dicontohkan apa itu kasih di dalam keluarga. Dari sekolah dulu, saya selalu mendengar isi dari alkitab dan ajaran bahwa Yesus Kristus merupakan Tuhan yang penuh dengan kasih sampai Ia rela mati di kayu salib, namun kenapa orang – orang yang saya ketahui pergi ke gereja tidak melakukan hal-hal yang tertulis di alkitab? Saat itu yang saya lihat dari orang yang pergi / aktif di gereja adalah judgemental, penuh dengan kecurigaan, pahit dengan orang, sebuah kebenaran yang menyedihkan namun real bagi saya.

Saya pun menganggap isi alkitab hanyalah sebuah dongeng saja. Apakah kisah seseorang bernama Kristus yang rela turun ke dunia dari tahtanya di sorga sebagai anak Allah sampai rela mati di kayu salib betul-betul terjadi? Apakah firman yang berisikan ampunilah orang lain sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali sehari benar-benar dipraktekkan? Atau apakah memang ada orang yang bila ditampar pipi kanannya rela memberikan pipi kirinya? Yang saya pertanyakan bukanlah kebenaran dari firman, namun apakah benar – benar ada yang menghidupinya atau tidak. Pada saat itu saya rasa jawabannya adalah tidak. Mungkin Kristus sudah benar-benar mati dan yang diajarkan oleh gereja merupakan sebuah kebohongan besar, mungkin alkitab hanya penipuan yang diajarkan oleh sekelompok orang munafik yang mengaku mengetahui kebenaran padahal sebenarnya tidak. Toh tidak ada yang benar – benar mempraktekkannya.

Sebuah Pembicaraan yang Membalikkan Hidup

Di artikel Pahit dengan Masa Lalu, saya sudah sempat menceritakan pada tahun 2015 merupakan momen yang sangat berat bagi saya karena rumah keluarga kami terpaksa harus dijual untuk menutupi hutang ayah. Pada tahun 2016, saya mendapatkan pekerjaan pertama saya di suatu perusahaan yang berlokasi di Pulomas. Tanpa sadar saya pun membawa kepahitan hidup saya ke tempat kerja saya : saya menuntut tempat kerja saya untuk memenuhi keinginan saya. Saat itu, saya yang belum tahu ingin seperti apa karir saya ke depannya dimasukkan ke tim IT Security menuntut untuk diberikan sertifikasi professional dari Cisco dan dibayarkan oleh perusahaan. Namun, karena tidak kunjung diberikan oleh perusahaan sehingga membuat saya menjadi pahit dengan perusahaan saya.

Pada saat itulah saya bertemu dengan atasan saya yang kebetulan merupakan jemaat di JPCC. Awalnya saya menganggap orang tersebut sosok yang lemah : beberapa dari rekan saya tidak disiplin dan tidak mengerjakan tugas namun ia tetap melindungi mereka dari departemen HRD (Human Resources Department, bagian yang ditugaskan untuk menghukum karyawan yang melanggar aturan). Saat itu, saya yang tengah merasa pahit pun merasa tidak perlu disiplin dan menolak mengerjakan tugas-tugas yang ia berikan. Saya pernah hanya masuk kantor di hari Kamis dan Jumat saja, dari Senin-Rabu saya sengaja bolos dan berbohong kalau saya sedang berada di customer. Saya menolak pekerjaan yang ia berikan dan saya melabrak atasan saya tersebut,”Ah, saya terlalu pintar untuk melakukan pekerjaan ini, kasih aja ke orang-orang bodoh yang lain.” Saat ditelpon dan dichat oleh atasan tersebut saya selalu menonaktifkan HP saya. Yang saya ketahui pada saat itu adalah saya pahit dengan keluarga, pekerjaan, dan juga hidup saya, sehingga sayapun berpikir kalaupun saya dipecat dari sana ya sudahlah, toh tidak akan berpengaruh banyak. Hidup saya sudah pahit, hal apa lagi yang bisa terjadi?

Pada akhirnya, salah satu rekan di tim saya yang juga merupakan teman dekat saya saat itu menghubungi saya melalui WA (Whatsapp) dan meminta saya untuk datang ke kantor dan menemui atasan saya. “Tolonglah ke kantor, lu ngomong dulu sama bos, dia udah nyariin lu banget tapi lu ga bisa dikontek.” Begitulah permintaannya. Meskipun awalnya saya merasa malas, namun entah kenapa ada dorongan yang membuat saya memutuskan untuk pergi ke kantor keesokan harinya. Saat besok sesampainya saya di kantor, saya pun segera bertemu dengan atasan saya dan kami pun sempat berbicara panjang “Kamu tuh sudah tidak bisa saya lindungi lagi, karena sekarang HRD sudah mulai curiga dan kalau kamu melanjutkan seperti ini terus, saya harus menyerahkan kamu ke HRD untuk diproses.” Tentu saya tidak mendengarkan hal tersebut, “So what kalau itu terjadi?” pikir saya.

Kemudian, setelah selesai berbicara, ia pun mengajak saya setelah pulang dari kantor untuk berbicara hanya berdua saja dengannya di luar lingkungan kantor. Setelah pulang, saya mengikuti dia dan dia segera menanyakan kenapa saya bertingkah laku seperti sekarang di kantor.

“Saya tidak mau lama-lama di kantor ini karena saya ga bisa melihat masa depan di sini, saya ingin punya banyak sertifikasi dan penghasilan yang sangat besar.”

Setelah mengatakan hal itu, saya pun bertanya kepadanya “Mas kecewa kan sama saya? Saya rasa saya sudah ga bisa jadi bagus lagi disini karena udah ga ada motivasi buat kerja.”

Kemudian ia menceritakan kisah soal Yunus yang tidak mengerti kenapa Tuhan memanggil dia untuk pergi ke kota Niniwe dan memperingatkan mereka bahwa Tuhan akan segera menghancurkan kota tersebut (Yunus 1:4), Yunus menolak pergi ke Niniwe karena mengganggap pergi ke kota tersebut merupakan hal yang sia-sia belaka karena kota itu penuh dengan orang-orang berdosa yang sudah tidak ada harapan, sebaiknya segera dihancurkan saja tanpa diberikan ampun. Untuk apa dia datang ke kota tersebut? Namun, di injil Yunus bukankah telah diceritakan kalau akhirnya Niniwe bertobat karena Yunus memperingatkan mereka? Sama seperti kisah dari Yunus, rencana Tuhan tidak bisa bekerja di dalam kehidupan saya kalau saya hanya memaksakan apa yang menjadi keinginan saya

Terakhir dia memberikan kepada saya firman dari Lukas 16:10 (TB):
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Ia pun menutup dengan kata-katanya,”Saya percaya kalau Darmin memang ingin punya banyak sertifikasi dan karir yang sangat besar, kamu mampu untuk meraih hal tersebut, tapi kalau kamu tidak melakukan tanggung jawab kamu terlebih dahulu di tempat sekarang, kesempatan tersebut tidak akan pernah datang.”

Dari situlah saya sadar, bahwa ia bukan merupakan atasan yang lemah. Ia membela bawahan-bawahannya dari HRD karena ia percaya bahwa mereka bisa berbalik menyadari bahwa yang mereka lakukan salah, meskipun ia sudah tahu bahwa membela bawahannya dapat merugikan dirinya sendiri, ia tetap melakukannya. Ia tetap percaya kepada saya terlepas dari tindakan saya yang tidak professional. Bagaimana mungkin masih ada orang yang percaya kepada saya padahal saya sendiri sudah tidak ada lagi rasa percaya dengan kehidupan yang saya jalani? Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang memiliki kepercayaan ke orang lain yang begitu besar seperti dia.

Iman dan Kekristenan

Dari atasan saya tersebutlah saya baru mengenal ke-Kristenan dan setelah momen tersebut, saya sangat tertarik dengan kehidupannya : bagaimana ia membangun keluarga, nilai – nilai apa yang dia percayai, dan juga ke gereja mana dia beribadah. Saya benar-benar kagum dengan kehidupannya dan dalam hati mulai muncul, “Ternyata ada orang Kristen yang seperti dia, orang yang melakukan ajaran di alkitab dan percaya dengan kebenaran yang ada di dalamnya.”

Satu hal yang saya lihat saat itu adalah:
Christianity is about Faith

  • Anda tetap percaya kepada orang lain meskipun dia adalah bawahan yang tidak disiplin dan tidak mengerjakan tugas bahwa di dalam hatinya masih ada kebaikan yang bisa membuat dia sadar dan merubah perilakunya
  • Anda tetap percaya kepada keluarga anda sendiri yang sering bertengkar ataupun ribut bahwa keluarga anda akan menjadi harmonis pada saatnya nanti
  • Anda tetap percaya bahwa meskipun pekerjaan/usaha anda saat ini belum memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan anda, anda percaya bahwa ke depannya Tuhan yang akan memberkati yang anda lakukan menjadi lebih besar dari yang anda pernah bayangkan selama anda setia dan taat dalam mengerjakan tugas-tugas kecil di pekerjaan/usaha anda
  • Anda tetap percaya bahwa pada akhir hidup, anda akan segera berkumpul kembali dengan Bapa yang ada di sorga sehingga tidak ada satupun hal yang perlu anda takutkan di kehidupan, termasuk dengan kematian

Saya dicontohkan iman dan kebenaran tersebut di depan mata saya. Oleh karena atasan, saya menjadi percaya kembali bahwa isi dari alkitab bukanlah omongan kosong saja, bahwa meskipun ada banyak orang yang pergi ke gereja dan tidak melakukan isi dari alkitab, ada satu orang Kristen yang menunjukkan kepada saya apa yang terjadi dengan kehidupannya saat ia menjadi pelaku firman.

Setelah saya resign dari tempat tersebut, saya pun membawa hal tersebut dalam hati saya, sehingga beberapa bulan kemudian saya kembali teringat kepada dia, dan saya memutuskan untuk pergi beribadah di gereja tempat atasan saya pergi dan kemudian juga memutuskan untuk bergabung dengan komsel di sana. Saya percaya dengan nilai-nilai yang atasan saya pernah tunjukkan kepada saya, saya percaya dengan kebenaran dalam firman Kristus dan saya percaya bahwa ke depannya kehidupan saya akan berubah menjadi lebih baik lagi baik di keluarga, karir maupun hubungan saya. Saat ini memang belum terlihat, namun saya memiliki iman bahwa hal tersebut akan terjadi, karena saya percaya bahwa suatu saat nanti saya akan kembali ke rumah Bapa : bukankah saya tidak akan kekurangan satu apapun selama saya menetap di rumah tersebut?

Yohanes 14 : 1-3 (TB)
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”


Sparks! dibuat dengan suatu kerinduan agar semua orang dapat berkontribusi membagikan api kecilnya kepada orang lain. Jika setelah membaca artikel ini anda tergerak untuk berkontribusi melalui wadah ini, anda dapat menghubungi kami melalui email ke daylightworks@gmail.com.

One Reply to “How I Come to Christianity”

  1. Thank you bgt buat keberanian dan keterbukaan di tulisan ini! Sangat memberkati!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s