Kritik Membangun kok Menjatuhkan?


ditulis oleh Marcel Josojuwono, 23 September 2019


Beberapa bulan belakangan ini saya sering menghabiskan waktu senggang untuk mengembangkan hobi baru saya yaitu fotografi. Salah satu cara yang saya lakukan untuk melatih belajar adalah dengan membaca forum dimana setiap orang dapat menampilkan karyanya dan juga dapat bebas berkomentar. Akan tetapi saya sangat terkejut melihat bagaimana orang memberikan feedback terhadap hasil karya orang lain. Sebagian besar komentar tersebut merupakan kritik yang panjang atau tajam. Di sisi lain, saya menyadari betapa pendeknya suatu pujian yang diberikan seseorang.

Coba pikirkan berapa banyak anda mengkritik suatu hal dalam sehari dan bandingkan dengan jumlah apresiasi yang anda berikan. Di rumah kita melihat orang tua mengomentari anaknya ketika melakukan kesalahan, tetapi ketika melakukan hal yang baik dibiarkan saja atau diberikan pujian yang sangat pendek. Sama halnya juga di lingkungan gereja dimana kita didorong untuk memberikan teguran terhadap kesalahan atau kekurangan seseorang. Akan tetapi seberapa sering anda saling memuji satu sama lain di dalam komunitas anda? Lucunya teguran tersebut seringkali kita namakan “kritik membangun” yang sebenarnya dasarnya kritik juga.

Tahukah anda di dalam alkitab ada beberapa bentuk feedback yang bisa kita terapkan daripada memberikan kritik saja?

1. Encouragement
1 Tesalonika 5:11 berkata “saling menasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu…”. Dalam bahasa inggrisnya, kata ‘nasihati’ digunakan kata ‘encourage’ atau memotivasi. Menasihati seseorang tidak perlu dalam bentuk yang negatif saja. Motivasilah satu sama lain karena itu akan mendorong orang untuk bisa naik.

2. Appreciation
Dalam pelayanan-Nya, Yesus pun juga vokal dalam memberikan apresiasi terhadap seseorang oleh karena imannya (Matius 8:10). Dalam perumpamaan talenta pun sang tuan juga memberikan pujian “Baik sekali hamba yang baik dan setia” dan bahkan ia juga memberikan reward atas pekerjaan hambanya (Matius 25:14-30). Sama juga di kehidupan, terkadang kita sering lupa mengapresiasi hal baik yang dilakukan seseorang dan lebih sering mengomentari yang tidak negatif saja.

3. Thankfulness
Apabila anda membaca surat – surat yang ditulis Paulus, ia seringkali membuka atau menutup dengan rasa syukur dan terima kasih kepada seseorang. Seberapa sering kita memberikan rasa terima kasih kepada orang disekitar kita? Kadang kita juga perlu menyadari bahwa tanpa mereka mungkin hidup kita tidak seperti sekarang ini.

Mari kita terapkan budaya feedback yang juga positif. Kita sudah sangat ahli dalam memberikan kritik tetapi sangat amatir dalam hal memotivasi, memuji dan berterima kasih. Ingat bahwa feedback tidak selalu diberikan pada hal yang negatif saja. Jangan sampai apa yang kita anggap sebagai “kritik membangun” tersebut justru jadi menjatuhkan.


Sparks! merupakan sarana renungan kristen yang bertujuan untuk memperlengkapi kehidupan saat teduh setiap orang percaya. Sparks! akan membagikan konten renungan dalam berbagai topik mulai dari doa, iman, keselamatan, kasih, komunitas, keluarga, dan masih banyak lagi. Jika setelah membaca artikel ini anda tergerak untuk berkontribusi melalui wadah ini, anda dapat menghubungi kami melalui email ke daylightworks@gmail.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s